Senin, 29 Februari 2016

Struktur Teorema Thales



Thales (624 – 564 SM) merupakan seorang filsuf yang lahir di kota Miletus, sebuah kota di pesisir barat Anatolia. Selama hidup, Thales tidak pernah meyakini kepercayaan sukunya mengenai kekuatan para dewa dan lebih mempercayai akal sehat dan pandangan naluri yang ia bangun dengan pemikirannya. Thales memiliki berbagai pemikiran terutama mengenai kehidupan di bumi dan juga bidang geometri yang dipelajarinya di Mesir ketika Thales berpakaian saudagar.



Gambar 1. Skema Pemikiran Thales

Pemikiran utama Thales adalah mengenai air yang merupakan prinsip dasar dari segala sesuatu yang ada di bumi ini. Hal ini dikarenakan air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat stabil, tidak akan pernah habis, dan juga terkandung di setiap bahan makanan. Pemikiran Thales berikutnya yaitu bahwa setiap hal yang ada di muka bumi, baik benda hidup maupun benda mati, memiliki jiwa. Selanjutnya, Thales pun semakin dikenal oleh masyarakat pada masa itu ketika Thales berhasil memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei pada tahun 585 SM.
Thales berhasil membuat pemikiran-pemikiran dalam bidang geometri, diantaranya menentukan ukuran piramida hanya dari bayangannya saja dan mengukur jarak suatu kapal di laut dengan tepian pantai. Selanjutnya, pemikiran-pemikiran tersebut disempurnakan dengan pemikiran abstrak Thales yang lainnya ke dalam teorema yang kemudian menjadi teorema dasar dalam bidang geometri dan dikenal dengan nama teorema Thales. Adapun teorema tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar oleh diameternya.
2.      Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.
3.      Jika ada dua garis lurus bersilangan, maka besar kedua sudut yang saling berlawanan akan sama.
4.     Jika A, B, dan C adalah titik-titik dalam sebuah lingkaran dimana AC merupakan sebuah diameter lingkaran, maka ABC adalah sudut siku-siku.
5.  Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.

Gambar 2. Timeline Perjalanan Teorema Thales


Kelima teorema dalam bidang geometri tersebut perlahan-lahan diperkenalkan kepada masyarakat pada zaman tersebut. Sayangnya, tidak ada sumber yang secara pasti menerangkan bagaimana Thales mengenalkan teorema-teorema tersebut. Namun, sejak Thales mengenalkan teoremanya, Thales kemudian memiliki beberapa murid diantaranya Anaximander, Anaximenes, Mamercus, dan Mandryatus.
Selanjutnya, sepeninggal Thales, beberapa filsuf seperi Plato dan Aristoteles menuliskan kisah perjalanan Thales beserta pemikiran-pemikirannya termasuk teorema Thales. Bahkan, Pythagoras dan Euclid kemudian melanjutkan perjuangan Thales dalam bidang geometri. Tidak hanya penuangan dalam tulisan saja, beberapa orang pun berusaha untuk membuktikan teorema tersebut dan sekitar 450 SM, Eudemus berhasil untuk membuktikannya. Namun, selain adanya pembuktian ternyata ada pula yang mengatakan bahwa terdapat kekeliruan dalam teorema Thales. Hal ini disampaikan oleh Proclus yang mengungkapkan bahwa ada sedikit kekeliruan dalam Teorema Thales sehingga kemudian Proclus menggunakan kata “similar” atau “serupa” daripada “equal” atau “sama dengan” ketika membuktikan teorema ke-2. Hal tersebut dilakukan karena menurutnya Thales tidak memiliki cara yang tepat untuk mengukur secara pasti sudut tersebut.
Pembuktian matematis lain yang juga dikemukakan adalah pembuktian teorema ke-4 yang dituliskan dalam buku Element Euclid. Berikut adalah pembuktiannya:

Gambar 3
Perhatikan gambar 3!
OA, OB, dan OC merupakan jari-jari lingkaran, sehingga panjang OA, OB, dan OC adalah sama. Karena OA, OB, dan OC sama panjang, maka AOB dan BOC merupakan segitiga sama kaki dengan OBC = OCB dan OAB = OBA. Mengingat jumlah sudut segitiga sama dengan 180°, maka:
α + (α + β) + β = 180°
2(α + β) = 180°
α + β = 90°

Teorema Thales yang disebut sebagai salah satu dasar-dasar dalam bidang geometri, ternyata juga memberikan pengaruh akan munculnya pemikiran lain dalam geometri. Contohnya adalah kesebangunan dan kekongruenan segitiga. Saat ini, teorema Thales masih diperkenalkan kepada generasi-generasi muda. Perkenalan tersebut dilakukan dalam kegiatan pembelajaran matematika. Namun, perkenalan tersebut dilakukan secara berbeda. Misalnya untuk anak-anak yang sudah sampai di sekolah-sekolah tinggi, perkenalan tidak hanya dilakukan sebatas mengenal lalu menggunakannya tetapi lebih pada pembuktian teorema-teorema itu sendiri. Tidak hanya itu, sebagaimana awal mula teorema ini hadir, teorema Thales juga digunakan untuk mengukur jarak kapal dari tepi pantai ataupun mengukur ketinggian suatu obyek namun hanya dengan menggunakan tinggi bayangan dari obyek tersebut.

Sumber:
http://goo.gl/Kkvj3p
https://id.wikipedia.org/wiki/Thales
https://en.wikipedia.org/wiki/Thales%27_theorem
http://www.learn-math.info/indonesian/historyDetail.htm?id=Thales
http://paradoks77.blogspot.co.id/2011/05/pmbuktian-teorema-thales.html




Senin, 22 Februari 2016

Mengenal Konsep Himpunan Matematika dalam Musik


Musik merupakan salah satu hal di dunia ini yang dapat mengaduk-aduk emosi seseorang. Melalui musik, manusia pun dapat mengungkapkan dan mengekspresikan pemikiran serta hatinya. Musik telah hadir di dunia ini sejak dahulu kala. Pada zaman Yunani Kuno sudah dikenal dewa/dewi musik seperti The Graces dan The Muses.
Beberapa filsuf, seperti Plato (422 – 347 SM) dan Arthur Schopenhauer (1788 – 1860), menyatakan bahwa musik merupakan suatu bentuk karya yang tinggi akan nilai estetika sehingga dapat membantu kehidupan manusia. Selanjutnya, Immanuel Kant (1724 – 1804) mendefinisikan musik lebih dalam lagi. Kant berpendapat bahwa musik dapat dikatakan memiliki nilai estetika yang tinggi bila ada keharmonisan antara imajinasi dan artinya. Kant juga menilai bahwa musik yang berestetika adalah musik yang dihasilkan oleh seorang yang genius dan juga ahli pikir.
Musik dengan harmonisasi yang indah memang dapat mempengaruhi emosi manusia. Namun, dibalik keindahan tersebut ternyata juga terkandung kompleksitas yang tinggi dan siapa sangka hal tersebut berhubungan dengan matematika. Seperti yang pernah diungkapkan Pythagoras (572 – 500 SM), yaitu bahwa musik memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan dari matematika.
Banyak aspek dalam musik yang memiliki keterkaitan erat dengan matematika, seperti ritme, frekuensi, harmoni, sistem tuning, dan sebagainya. Tetapi, ada salah satu aspek yang cukup mendasar dalam musik dan sangat berkaitan erat dengan matematika, yang dinamakan teori himpunan musik atau set music theory.
Teori himpunan musik atau set music theory merupakan sebuah konsep dalam musik yang digunakan untuk mengkategorisasikan dan mendeskripsikan hubungan obyek-obyek dalam musik. Selain itu, teori ini juga dapat dipakai untuk menganalisis struktur-struktur musik. Menurut Howard Hanson (1960) dan Allen Forte (1973), konsep teori himpunan musik ini adalah suatu teori yang sangat umum dan dapat diaplikasikan pada gaya musik tonal dan atonal.
Dasar-dasar teori ini sesungguhnya sangatlah mirip dengan teori-teori dasar dalam teori himpunan matematika. Kemiripan yang pertama terlihat pada notasi yang digunakan untuk mendefinisikan himpunan. Pada kedua teori, untuk membatasi daftar anggota-anggota pada himpunan lazimnya digunakan tanda kurung, baik tanda kurung kurawal ({}) maupun tanda kurung siku ([]). Namun dalam musik, ada beberapa teori yang menggunakan tanda kurung sudut (< >).
Kemiripan selanjutnya adalah pada anggota. Dalam teori himpunan matematika, obyek-obyek yang merupakan anggota suatu himpunan haruslah memiliki kesamaan yang terdefinisi secara jelas. Misalnya himpunan bilangan asli yaitu {1, 2, 3, }. Pada musik pun berlaku hal yang serupa, dimana anggota dalam himpunan tersebut didefinisikan dan diklasifikasikan berdasarkan pitch yang dibutuhkan oleh suatu melodi. Misalnya suatu melodi didasarkan pada pitch C – C# – D dan jika dinotasikan dalam himpunan maka akan menjadi {0, 1, 2}, dimana C yang merupakan nada utama dinotasikan dengan angka nol, kemudian C# dinotasikan dengan angka 1 karena terjadi perpindahan interval nada sebesar 1 interval dari C ke C#, demikian pula D yang dinotasikan dengan angka 2.
Kemiripan yang ketiga adalah operasi-operasi yang dilakukan pada himpunan-himpunan. Contohnya, operasi yang dapat dilakukan dalam materi himpunan adalah translasi dan refleksi. Operasi ini pun dilakukan dalam musik namun dengan penamaan yang berbeda, dimana translasi berubah menjadi transposisi dan refleksi berubah menjadi inversi. Tidak hanya itu, operasi matematis lain yang juga dapat dilakukan dalam musik adalah komplementasi dan multiplikasi (perkalian).
Selanjutnya, jika dilihat dari operasi yang dilakukan pada himpunan pitch dalam suatu melodi; yaitu dapat ditansposisi dan diinversi; dengan demikian dapat diketahui bahwa himpunan tersebut haruslah merupakan suatu himpunan yang simetris. Hal tersebut dalam matematika dikenal sebagai relasi yang ekuivalen, sebagaimana menurut Schuijer (2008) yang menyatakan bahwa suatu relasi dalam himpunan S dinyatakan sebagai relasi ekuivalen jika memenuhi tiga kondisi, yaitu reflektif, simetris, dan transitif.
Kesamaan yang terdapat pada teori himpunan musik maupun teori himpunan matematika merupakan suatu bentuk atau wujud bahwa matematika yang dinilai kaku oleh sebagian orang ternyata mampu berkawan dengan musik yang dinilai sangat menyenangkan. Namun sesungguhnya tidak hanya teori himpunan saja melainkan masih banyak teori matematika lain yang juga berkaitan erat dengan musik ataupun dengan bidang ilmu lain yang mungkin tidak pernah dibayangkan.

Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Set_theory_(music)
https://en.wikipedia.org/wiki/Music_and_mathematics
https://hendafebrian.wordpress.com/2008/12/07/filsafat-musik/


Note: 
Penulis tidak terlalu memahami konsep musik secara mendalam, jadi bila terdapat kesalahan mohon untuk dikoreksi di kolom komentar. Thanks, :)

Senin, 15 Februari 2016

Teorema Thales

TEOREMA THALES



Thales (624 – 564 SM) merupakan seorang filsuf yang lahir di kota Miletus, sebuah kota di pesisir barat Anatolia. Thales besar di antara suku Homerian yang mempercayai adanya kekuatan para dewa yang memiliki kemampuan seperti manusia. Dewa tersebut dianggap sebagai penggerak alam semesta. Namun meskipun begitu, Thales tidak pernah meyakini kepercayaan tersebut dan lebih mempercayai akal sehat dan pandangan naluri yang ia bangun dengan pemikirannya.
Pemikiran utama Thales adalah mengenai prinsip dasar dari segala sesuatu yang ada di bumi ini. Thales menyatakan bahwa hal tersebut sesungguhnya adalah air. Hal ini dikarenakan air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat stabil, dan juga tidak akan pernah habis. Selain itu juga dikarenakan bahwa air terkandung di setiap bahan makanan yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Thales pun mengemukakan pandangan bahwa bumi terletak di atas air. Pemikiran Thales berikutnya yaitu mengenai jiwa. Menurutnya, setiap hal yang ada di muka bumi, baik benda hidup maupun benda mati, memiliki jiwa. Misalnya saja sebuah magnet yang dapat menarik atau menggerakan besi.
Selanjutnya, Thales pun semakin dikenal oleh masyarakat pada masa itu ketika Thales berhasil memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei pada tahun 585 SM. Pada saat itu, Thales mengamati laporan masyarakat Babylonia, yaitu sebuah siklus sepanjang 18 tahun 10 hari 8 jam. Beberapa masyarakat pada masa itu menduga bahwa prediksi Thales mengenai gerhana tersebut hanyalah sebuah tebakan saja. Namun beberapa masyarakat pun menduga bahwa hal tersebut bukanlah suatu tebakan semata, seperti yang diungkapkan oleh Longrigg.
Selain sebagai seorang saudagar, Thales pun sering pergi berlayar terutama ke Mesir. Di sana, Thales mempelajari ilmu ukur atau geometri. Dengan ilmu yang dipelajarinya tersebut, Thales berhasil membuat pemikiran-pemikiran dalam bidang geometri, diantaranya menentukan ukuran piramida hanya dari bayangannya saja. Hal ini pun diungkapkan oleh Hieronymus dan Pliny dalam tulisan keduanya. Tidak hanya itu, Thales pun dapat mengukur jarak suatu kapal di laut dengan tepian pantai.
Selanjutnya, pemikiran-pemikiran tersebut disempurnakan ke dalam teorema yang kemudian menjadi teorema dasar dalam bidang geometri. Adapun teorema tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar oleh diameternya.
2.      Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.
3.      Jika ada dua garis lurus bersilangan, maka besar kedua sudut yang saling berlawanan akan sama.
4.      Sudut yang terdapat di dalam setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.
5.      Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.
Semenjak Thales mengenalkan teoremanya ke masyarakat, Thales memiliki beberapa murid diantaranya Anaximander, Anaximenes, Mamercus, dan Mandryatus. Tidak hanya itu, beberapa orang pun berusaha untuk membuktikan teorema tersebut dan sekitar 450 SM, Eudemus berhasil untuk membuktikannya. Di sisi lain, Proclus mengungkapkan bahwa ada sedikit kekeliruan dalam Teorema Thales sehingga kemudian Proclus menggunakan kata “similar” atau “serupa” daripada “equal” atau “sama dengan” ketika membuktikan teorema ke-2. Hal tersebut dilakukan karena menurutnya Thales tidak memiliki cara yang tepat untuk mengukur secara pasti sudut tersebut.
Saat ini, di Indonesia khususnya, Teorema Thales pun masih diperkenalkan kepada masyarakat terutama anak-anak sekolah, khususnya anak-anak di sekolah menengah pertama. Hanya saja pengenalan yang dilakukan hanya bersifat aplikatif dimana anak-anak diajarkan untuk menggunakan rumus-rumusnya saja tanpa mengetahui tujuan penggunaannya dan juga asal usul rumus tersebut. Sesungguhnya, ada baiknya bahwa anak-anak diperkenalkan dengan cara “menemukan” daripada “diberitahu”. Dengan demikian ,anak akan lebih merasa lebih dekat serta mengetahui hal yang dipelajarinya secara mendalam, dan mungkin suatu hari nanti akan lahir sosok sehebat Thales dengan teorema-teorema baru dalam bidang matematika, khususnya geometri.

Sumber:
http://goo.gl/Kkvj3p
https://id.wikipedia.org/wiki/Thales

http://www.learn-math.info/indonesian/historyDetail.htm?id=Thales

Selasa, 19 Januari 2016

Belajar Memahami Hidup dengan Filsafat - Tugas Akhir Filsafat Ilmu

BELAJAR MEMAHAMI HIDUP DENGAN FILSAFAT

Makalah Dibuat dalam Rangka Melengkapu Tugas-tugas Perkuliahan Filsafat Ilmu dari Prof. Dr. Marsigit, M.A., Tahun Ajaran 2015/2016






Disusun Oleh:

Nurul Fitrokhoerani
(15709251026)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
PENDAHULUAN

Hidup merupakan suatu hal yang pasti dialami oleh setiap manusia. Tidak hanya itu, setiap manusia pun memiliki mimpi tersendiri akan kehidupan ideal bagi dirinya. Mimpi akan kehidupan ideal tersebut sesungguhnya bersifat relatif, karena kehidupan ideal bagi seorang manusia belum tentu menjadi kehidupan ideal bagi manusia yang lain. Perbedaan pandangan manusia mengenai kehidupan inilah yang menjadikan dunia lebih berwarna.
Selain itu, jika diamati lebih mendalam, hidup juga bersifat kontradiksi. Misalnya hidup dengan kebahagiaan akan berkontradiksi dengan hidup dengan kesedihan atau hidup dengan kemewahan akan berkontradiksi dengan hidup dengan kesederhanaan.
Kehidupan memang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan dan dibahas, terutama dalam bidang ilmu filsafat. Filsafat sendiri merupakan suatu ilmu yang mempelajari akan seluruh fenomena kehidupan manusia secara ekstensif dan intensif sehingga dapat melatih kemampuan berpikir kritis manusia. Meskipun filsafat sudah didefinisikan secara jelas, namun sesungguhnya filsafat adalah pemikiran manusia itu sendiri dan pemikiran tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh orang lain.
Keterkaitan yang sangat erat antara filsafat dan kehidupan memang menarik untuk diulas, terutama mengenai makna hidup dalam kacamata filsafat. Hal inilah yang kemudian menjadikan penulis untuk membahasnya dalam makalah ini. Namun dalam makalah ini, makna kehidupan tidak hanya dipandang dari segi filsafat secara umum tetapi juga dipandang dari cabang-cabang filsafat yang lainnya.






PEMBAHASAN

A.    Definisi Hidup
Setiap manusia di muka bumi ini pasti mengalami apa yang disebut dengan hidup. Tetapi nampaknya tak akan ada satu orang pun yang dapat mendefinisikan hidup secara pasti. Hal ini bisa jadi dikarenakan perspektif setiap manusia yang berbeda mengenai arti hidup. Meskipun terdapat perbedaan akan definisi hidup, sesungguhnya hidup dapat didefinisikan baik dari segi biologi, segi sosiologi bahkan segi filsafat.
Jika kata hidup dipandang dari sisi biologi, hidup dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang ada, nampak, dan berwujud pada manusia namun disertai dengan adanya berbagai ciri-ciri. Ciri-ciri tersebut diantaranya bernafas, bergerak, memerlukan makanan, tumbuh, berkembang biak, dan peka terhadap rangsangan. Selanjutnya, hidup dalam ruang lingkup sosiologi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang memiliki keterkaitan erat dengan perilaku manusia yang diwujudkan dalam bentuk interaksi dengan manusia yang lainnya. Dengan demikian, hidup dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dilalui oleh manusia yang ditandai dengan bernafas, tumbuh, bergerak, berkembang biak, dan peka terhadap rangsangan serta di dalamnya terdapat suatu interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.
Namun, definisi tersebut sesungguhnya hanya sebagian kecil saja dari definisi hidup yang sesungguhnya, karena hidup yang dijalani oleh manusia pada hakikatnya sangatlah beraneka ragam dan hanya bisa didefinisikan oleh manusia yang menjalaninya. Ada yang mendefinisikan hidup sebagai suatu kebahagiaan, ada juga yang mendefinisikan hidup sebagai suatu kesedihan, dan lain sebagainya. Jadi sesungguhnya definisi hidup adalah relatif tergantung pada siapa yang mengalaminya dan sebagai manusia yang menjalaninya, alangkah baiknya kita tidak hanya mampu mendefinisikan hidup tetapi juga mampu memahami hakekat hidup serta menjadikan hidup yang lebih bermanfaat bagi manusia yang lain.

B.     Pandangan Filsafat Terhadap Kehidupan Manusia
Manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya masing-masing dan tak ada satu manusia pun yang dapat menghalanginya. Pilihan itu pun dapat beragam dan bahkan saling berkontradiksi. Selain itu, alangkah baiknya jika manusia menjalani segala hal di dalam hidupnya dengan menyesuaikan diri akan ruang dan waktu yang ada serta menyadari posisinya dalam ruang dan waktu tersebut.
Filsafat merupakan studi mengenai kehidupan manusia. Karenanya dalam filsafat, banyak pandangannya yang mengulas kehidupan manusia baik secara eksplisit maupun implisit. Berikut adalah beberapa pandangan filsafat tersebut.
1.      Determinisme
Determinisme merupakan suatu pandangan filsafat yang menyatakan bahwa dalam hidup manusia tidak terdapat kebebasan untuk melakukan berbagai kegiatan. Manusia yang termasuk ke dalam determinis, biasanya melakukan justifikasi pada suatu hal tanpa memikirkan terlebih dahulu pilihan lain yang mungkin dapat menjustifikasi hal tersebut lebih baik. Misalnya seseorang yang menilai bahwa anak-anak dari keluarga broken home memiliki kelakuan yang buruk. Penilaian akan anak tersebut sesungguhnya merupakan bentuk deteminisme karena sesungguhnya tidak semua anak dari keluarga broken home memiliki kelakuan yang buruk.
2.      Fabilisme
Fabilisme merupakan suatu pandangan dalam filsafat yang mendukung pernyataan bahwa manusia dapat berlaku salah. Pandangan ini layaknya cukup baik untuk diterapkan dalam hidup manusia mengingat tidak sempurnanya diri manusia. Dengan menerapkan pandangan ini, kita akan lebih menghargai kesalahan yang telah diperbuat, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.
Fabilisme pun memandang bahwa kesalahan adalah kebenaran. Misalnya kesalahan anak kecil dalam mempelajari matematika dengan benda nyata merupakan suatu kebenaran bagi anak tersebut meskipun bagi orang dewasa hal itu adalah kesalahan. Hal ini dikarenakan usia anak memanglah saat dimana ia mempelajari matematika dengan pengalamannya termasuk interaksinya dengan benda nyata.
3.      Hedonisme
Saat ini, nampaknya banyak sekali manusia yang memiliki pandangan hedonisme. Pandangan ini merupakan pandangan hidup yang menjadikan kebahagiaan duniawi sebagai tujuan hidupnya. Orang-orang hedonis akan melakukan berbagai upaya untuk mencari kebahagian duniawi sebanyak-banyaknya. Salah satu ciri hedonisme sudah banyak merebak di kehidupan masyarakat adalah banyaknya pusat perbelanjaan yang menjanjikan kebahagiaan duniawi yang beragam.
4.      Vitalisme dan Fatalisme
Vitalisme dan fatalisme bagaikan sepasang sepatu yang tidak akan bermanfaat jika hanya digunakan salah satunya saja. Vital dapat didefinisikan sebagai ikhtiar, sedangkan fatal adalah doa atau takdir. Dalam hidup manusia, keduanya haruslah memiliki bobot yang sama. Bayangkan saja jika ada seseorang yang menginginkan sebuah kendaraan namun hanya berdoa dan meminta kepada Tuhannya saja tanpa adanya usaha. Apakah mungkin orang tersebut mendapatkan kendaraan yang diinginkan? Jawabannya adalah tidak. Begitupun jika kondisi tersebut ditukar. Jawaban yang mungkin dihasilkan bisa saja iya, namun yang didapat orang tersebut bukanlah suatu hal yang berkah dan bermanfaat. Selain itu, jawabannya pun bisa saja tidak, jika dia hanya berusaha namun Tuhan tidak mengizinkannya karena dia tidak pernah berdoa.
5.      Positivisme
Pandangan ini merupakan pandangan yang dimunculkan pertama kali oleh Auguste Comte. Manusia yang memiliki pandangan ini menganggap bahwa teknologi adalah dewa. Hal ini sesungguhnya tengah terjadi pada kehidupan manusia di zaman saat ini dimana teknologi sudah bukanlah hal yang mahal. Tidak hanya mengagungkan teknologi atau sains, manusia yang memiliki pandangan ini akan menempatkan spiritualitasnya di posisi terendah dalam hidupnya. Salah satu contoh manusia yang menggunakan positivisme sebagai pandangan hidupnya adalah seorang laki-laki yang selalu menggunakan hand-phone meskipun ia sedang melaksanakan sholat Jumat.
6.      Reduksionisme
Reduksionisme sesungguhnya pasti terjadi dalam kehidupan manusia, namun terkadang tak pernah disadari. Pandangan reduksionisme mengungkapkan bahwa suatu hal dapat dipahami dengan menyederhanakan atau mereduksi seluruh bagian kecil yang ada dalam hal tersebut. Kegiatan reduksi pada hidup manusia dikarenakan keterbatasan yang ada dalam diri manusia untuk memahami secara utuh segala hal yang ada di dunia.
7.      Skeptisisme
Keraguan dalam diri manusia terkadang akan muncul ke permukaan. Terlebih jika manusia dihadapkan pada pilihan yang akan menentukan hidupnya kelak. Namun, bagaimana jika ada manusia yang selalu dipenuhi keraguan dan ketidakpercayaan diri dalam hidupnya? Mungkin saja manusia tersebut merupakan salah satu yang menjadikan skeptisisme sebagai pandangan hidupnya. Pandangan ini sesungguhnya dapat bernilai positif atau negatif. Poin positif dari pandangan ini yaitu menjadikan manusia berhati-hati akan hal-hal baru yang mungkin akan menghampirinya. Sedangkan poin negatifnya muncul dari segi keagamaan, dimana manusia seharusnya tidak boleh memiliki keraguan sedikitpun ketika berurusan dengan Tuhannya.








KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya hidup merupakan suatu hal yang pasti terjadi dalam diri manusia. Hidup yang dipilih manusia pun bermacam-macam tergantung bagaimana manusia memandang hidupnya. Tetapi, apapun pandangan hidup yang dipilih manusia, entah hedonisme, reduksionisme, atau apapun, manusia hendaknya jangan sekali-kali melupakan aspek spiritualitas. Karena bagaimanapun, spiritualitaslah yang akan menjadikan hati manusia tenang dalam menjalani kehidupannya.
Selain itu, dalam hidup pun sebaiknya manusia bisa selalu menerjemahkan dan diterjemahkan, seperti memahami siapa subyek dan siapa obyek. Hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi suatu anomali dalam kehidupan manusia. Tak lupa, manusia pun harus mampu menempatkan dirinya tergantung pada ruang dan waktu dimana ia berada.